IhWsAmYly69o7Z5ScBumZGUHlio Alih-Bahasa | pesantrenku.net

28 kemakruhan dalam sholat-4

Penulis: Santri Alfiyyah 2011

Inilah bagian terakhir dari 4 bagian. Anda dapat memeriksa bagian pertama di sini, bagian kedua di sini, bagian ketiga di sini.

21. Sholat di lembah di mana Rosûlullôh tidur

Diceritakan dalam hadits, saat Rosûlullôh dalam perjalanan pulang, beliau dan sahabat berhenti karena lelah, di sebuah lembah yang disebut lembah qurô. Akhirnya semuanya tertidur hingga terlewat waktu subuh. Rosûlullôh bersabda: “sungguh, di sana bersarang setan.” Bagaimana dengan lembah selain lembah Qurô? Ulama mengatakan tak ada hukum makruh terkecuali jika di tempat itu dikhawatirkan memunculkan bahaya hingga sholat terlaksana tanpa kekhusyukan.

22. Melaksanakan sholat di gereja atau di kuil Yahudi

Dimakruhkan melaksanakan sholat di tempat peribadatan orang nasrani dan yahudi. Dari sini Syekh Syihâbuddîn mengiaskan hukum makruh ini pada tempat yang biasa digunakan untuk maksiat seperti pasar, pertigaan atau perempatan jalan, pemandian dan lain-lain. Karena menurut kitab Minhâjul Qowîm disebutkan bahwa tempat-tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya syetan-syetan.

23. Melaksanakan sholat di area pemakaman

Dimakruhkan sholat di area pemakaman. Namun dalam hal ini Syekh Syihâbuddîn menambahkan dalam syarahnya, bahwa hukum kemakruhan ini hanya berlaku pada makam-makam selain makamnya para nabi.

24. Melaksanakan sholat di tempat peristirahatan unta

Melaksanakan sholat di tempat peristirahatan unta adalah dimakruhkan, oleh karena tempat peristirahatan unta itu biasanya merupakan tempat yang bising oleh suara unta, sehingga dapat mengganggu konsentrasi dalam sholat.

25. Melaksanakan sholat di loteng ka’bah

Dimakruhkan sholat di atas loteng ka’bah. Karena secara logika ka’bah merupakan tempat yang menjadi arah kita menghadap dalam sholat. Lalu, kemanakah arah kita menghadap ketika sholat jika kita berada di atas kiblat atau patokan dalam kita menghadap? Secara adab, apakah sopan jika ka’bah kita jadikan sebagai penentu arah dalam sholat sementara kita berada di atasnya? Oleh karena itu dimakruhkan sholat di atas loteng ka’bah.

26. Sholat dengan memakai pakaian bermotif

Sholat dengan mengenakan pakaian bermotif atau bergambar adalah makruh hukumnya. Demikian halnya sholat menghadap pada sesuatu yang mempunyai motif, misalnya sajadah bergambar. Hukum kemakruhan ini berasal dari hadits yang mengabarkan bahwa suatu ketika Nabi sholat dengan mengenakan baju yang bergambar. Ketika beliau selesai dari melaksanakan sholat beliau bersabda “pakaian ini membuatku tidak berkonsentrasi.”

27. Dengan mengenakan penutup hidung dan mulut bagi laki-laki, dan bercadar bagi selain lelaki.

Yang dimaksudkan dengan selain lelaki adalah perempuan dan banci (transgender), yakni seseorang yang mempunyai 2 alat kelamin yang sama-sama berfungsi baik. Adapun seseorang yang berkelamin lelaki tetapi ‘merasa dirinya perempuan’ yang akhirnya bersikap seperti perempuan, maka tetap berhukum lelaki.

28. Kondisi sangat mengantuk

Jelas kondisi ini dapat menghilangkan kekhusyukan, itulah alasan mengapa dihukumi makruh. Hukum makruh ini berlaku apabila masih banyak waktu yang tersisa untuk melakukan sholat, dan kuat dugaan apabila tidur/beristirahat sebentar, setelah bangun nanti, masih ada sisa waktu yang cukup untuk melakukan sholat dengan sempurna. Apabila waktu sholat sudah hampir habis maka haram hukumnya tidur walaupun hanya sebentar. Seperti yang telah diterangkan dalam poin ke tujuh.

Penutup

Begitulah, jika kita melihat satu per satu dari poin-poin kemakruhan tadi, tentunya banyak di antaranya yang sering kita lakukan tanpa sadar. Yang sebelumnya kita tidak mengetahui bahwa itu merupakan perkara yang makruh. Kemakruhan dalam suatu ibadah walaupun tidak dilarang secara tegas dan tidak berakibat fatal, tapi sedikit banyak dapat mengurangi pahala dari ibadah tersebut. Jadi yang perlu dicamkan adalah kemakruhan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap enteng.

Inilah yang kami sampaikan. Dan dalam penyampaiannya sudah barang tentu terdapat kesalahan dan kekhilafan, untuk itu kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Dan tidak lupa kami memohon doa kepada para pembaca semua, semoga kelak kami menjadi generasi yang berguna. Amien.

Santri Alfiyyah 2011: Agus Nadhif, Ahmad Fuad Hasan, Bakir, Irfan Setiawan, Kafana, Kenang Said Safran, Maulani Syafiq Masrur, Wisnu Azhari

28 kemakruhan dalam sholat-3

Penulis: santri Alfiyyah 2011

Ini adalah bagian ke 3. Bagian pertama di sini, bagian kedua di sini, bagian terakhir di sini.

11. Menundukkan kepala atau mengangkatnya ketika ruku’

Dimakruhkan menundukkan kepala atau mendongakkannya ketika ruku’. Karena jika posisinya demikian maka antara punggung dengan kepala menjadi tidak lurus atau rata. Yang demikian ini tidak sesuai dengan cara atau posisi ruku’ yang disarankan Rosûlullôh yang mana beliau menyarankan agar ketika ruku’ posisi punggung dengan kepala lurus atau rata seperti papan.

12. Meninggalkan atau tidak membaca surat pada dua rokaat  pertama

Makruhnya meninggalkan membaca surat ini dikarenakan keluar dari khilaf (selisih pendapat) yang mengatakan bahwa membaca surat pada 2 rokaat pertama hukumnya wajib. Adapun hukum membaca surat pada rokaat ke tiga atau ke empat seperti dalam sholat maghrib atau sholat isya’ adalah mubah (boleh). Bahkan, untuk orang yang tertinggal dari imam dan ia belum sempat membaca surat pada saat sholat bersama imamnya, ia sunnah membaca surat meski pun pada rokaat ke tiga atau ke empat. (Apabila merasakan ada kejanggalan atau pertanyaan dalam masalah ini harap dituliskan dalam komentar).

13. Bersandar pada sesuatu

Dimakruhkan bersandar atau berpijak pada sesuatu yang apabila ia rubuh maka orang yang sholat ikut terjatuh. Dengan demikian, sholat dengan bersandar tidak mengapa asalkan apabila media yang dijadikan sandaran ini rubuh, orang itu tidak ikut terjatuh.

14. Menambah durasi duduk istirahat

Duduk istirahat adalah duduk sejenak setelah sujud kedua. Dimakruhkan menambah durasi dalam duduk istirahat ini hingga melampaui kewajaran seseorang dalam melakukan duduk di antara dua sujud. Adapun jika durasi dalam duduk istirahat itu melebihi durasi dalam melaksanakan duduk tahiyat akhir maka hukum sholat menjadi batal.

15. Memanjangkan tasyahud awwal

Memanjangkan atau berlama-lama dalam duduk tahiyat awwal makruh hukumnya, walaupun panjangnya durasi itu dikarenakan orang sholat itu menambahkan bacaan sholawat dan doa dalam tahiyat awwal. Karena pada dasarnya duduk takhiyat awwal didasarkan pada peringanan.

16. Meninggalkan do’a dalam tasyahud akhir

Meninggalkan atau tidak membaca doa dalam duduk tahiyat akhir makruh hukumnya. Dikarenakan wajib tidaknya membaca doa dalam tahiyat akhir masih belum jelas dan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.

17. Bersamaan dengan imam dalam gerakan dan bacaan

Bersamaan dengan imam dalam gerakan dan bacaan makruh hukumnya. Karena sah tidaknya sholat seorang ma’mum ketika bersamaan dengan imam dalam bacaan dan gerakan masih belum jelas. Hukum kemakruhan ini berasal dari pendapat bahwa tidaklah dikatakan berjamaah bila tidak bersamaan yang menurut pertimbangan mushonif apabila demikian maka hilanglah keutamaan jamaah. Seperti hilangnya keutamaan jamaahnya ma’mum yang keluar dari barisan atau shof.

18. Membaca keras pada bacaan pelan

Misalnya membaca (fatihah dan/atau surat) pada sholat dhuhur dan asar, atau rokaat ke 3 dan/atau ke 4 dari sholat maghrib dan isya’. Hukum makruh juga berlaku bagi ma’mum yang keras bacaannya melebihi imam. Adapun bila bersuara keras sampai mengganggu orang lain, maka diharamkan baik dalam sholat maupun di luar sholat.

19. Sholat dalam kandang hewan

Dimakruhkan melaksanakan sholat di dalam kandang hewan. Yang mana kandang selain sebagai tempat makan dan tidur hewan peliharaan juga merupakan tempat hewan-hewan itu membuang kotorannya, sehingga dikhawatirkan najis dari kotoran hewan itu mengenai bagian dari tubuh atau pakaian ketika sholat, yang tentu saja membatalkan sholat. Lokasi penyembelihan mempunyai hukum yang sama dengan kandang hewan.

20. Sholat di jalan sebuah bangunan

Dimakruhkan sholat dalam sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk hilir mudik atau lalu lalang orang setiap waktu. Karena dikhawatirkan buyarnya konsentrasi disebabkan banyaknya orang yang lewat. Mushonif menambahkan hukum kemakruhan ini berlaku apabila tempat tersebut memang banyak digunakan orang untuk hilir mudik setiap waktu.

Santri Alfiyyah 2011: Agus Nadhif, Ahmad Fuad Hasan, Bakir, Irfan Setiawan, Kafana, Kenang Said Safran, Maulani Syafiq Masrur, Wisnu Azhari

28 kemakruhan dalam sholat-2

Penulis: santri Alfiyyah 2011

Ini adalah tulisan ke 2 dari 4 bagian. Anda bisa membaca dulu bagian pertama. Untuk kelanjutannya, anda dapat meng-klik bagian ke tiga atau ke empat.

Kemakruhan-kemakruhan dalam Sholat

Melihat dari judul di atas, tentunya ada dua kata yang seharusnya menjadi obyek utama pembaca. Yaitu kemakruhan yang berkata dasar makruh dan sholat. Sementara pengertian dan pembahasan sholat telah dipaparkan di muka,  marilah kita membahas mengenai makruh.

Makruh menurut bahasa berasal dari Read the rest of this entry

Khiyar

Penulis: Endi Nugroho

Dalam struk atau kuitansi pembayaran  seringkali kita jumpai  aturan yang ditetapkan oleh pihak penjual. Biasanya tertulis “barang yang telah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan kecuali ada perjanjian”. Masih untung ada yang membolehkan ditukar atau kembalikan meski pun dengan perjanjian, sebab yang lebih banyak adalah yang tidak menyertakan 3 kata itu. Atau, aturan itu disembunyikan dalam redaksi “syarat dan ketentuan berlaku,” yang ditulis kecil-kecil dan diletakkan agak tersembunyi ;-)

Bagaimana hal itu menurut visi fiqh? Read the rest of this entry

28 kemakruhan dalam sholat-1

Penulis: Santri Alfiyyah 2011

“Ash sholâtu ‘imâduddîn. Faman aqômahâ faqod aqômaddîn. Waman hadamahâ faqod hadamaddîn”

“Sholat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya maka tegaklah agama, barang siapa meninggalkannya maka runtuhlah agama”

Sekilas Tentang Sholat

Seperti yang telah diketahui, sholat menduduki prioritas kedua setelah syahadat dalam rukun Islam. Sholat merupakan salah satu dari ibadah mahdoh (murni). Kata mahdloh menurut istilah berarti sebuah ibadah yang merupakan perintah langsung dari Allah ta’ala. dan tidak boleh ditinggalkan. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa sholat merupakan bentuk ibadah yang  membedakan antara Islam dengan agama lain.

Melihat dari hadits di atas sholat diibaratkan sebagai tiang agama dan tentunya Islam sebagai bangunannya. Seperti telah kita ketahui bahwa tiang adalah salah satu kebutuhan dasar yang harus ada untuk kita membangun sebuah bangunan. Tiang tidak hanya memengaruhi kualitas kekuatan sebuah bangunan, tapi lebih dari itu, tiang memiliki pengaruh yang menentukan pada berdiri/tidaknya suatu bangunan. Sholat dalam hubungannya dengan Islam sebagai agama pun demikian. Seperti yang telah dipaparkan di atas barang siapa mendirikan sholat maka tegaklah agamanya.

Dari uraian di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sholat, meski pun tidak menentukan secara syar’i maupun secara haqiqi namun memiliki pengaruh yang besar terhadap Islam/tidaknya seseorang. Benar adanya sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang sudah bisa dikatakan Islam”. Tapi, apakah bisa dikatakan seorang hamba bila tidak melakukan apa yang diperintahkan tuannya dan menjauhi larangannya?

Dari sini muncul di benak kami pertanyaan “bagaimanakah praktik sholat kita dan masyarakat sekitar kita? Pengetahuan apa sajakah yang dibutuhkan masyarakat mengenai sholat?”.

Melihat fenomena yang terjadi di masyarakat, menurut kami umumnya masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang memadai untuk sholat yang bisa dikatakan sah. Bahkan praktik kesunahan-kesunahannya pun sudah banyak dilakukan. Walaupun banyak yang kurang menyadarinya. Namun kemakruhan yang bisa dikatakan sebagai lawan dari kesunahan itu sendiri kurang diperhatikan.

Beranjak dari sini kami santri Alfiyah periode 2010/2011 ingin mengungkap sesuatu dari sholat yang kurang diperhatikan dalam masyarakat, yaitu kemakruhan-kemakruhannya. Dengan kitab Minhajul Qowim karya Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al Haitami sebagai rujukan utama.

Untuk uraiannya, kami bagi menjadi 3 postingan; 1-10, 11-20 dan 21-28. Kami berharap ada kritik dari apa yang kami tulis, dari anda semua…

Santri Alfiyyah 2011: Agus Nadhif, Ahmad Fuad Hasan, Bakir, Irfan Setiawan, Kafana, Kenang Said Safran, Maulani Syafiq Masrur, Wisnu Azhari

 


Rukun jual beli

Penulis: Endi Nugroho

Definisi: Jual beli menurut bahasa ialah suatu bentuk akad penyerahan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sedangkan menurut syara’ adalah suatu bentuk akad penyerahan harta dengan harta yang lain dengan cara yang sudah ditentukan.

 Dasar Al-Quran: QS Al baqarah 275 : Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Read the rest of this entry

Perempuan vs iddah

Penulis: Santri Shorof 2009

Masalah ini adalah satu dari beberapa masalah yang kita, terutama perempuan, kerapkali lupa bahkan abai. Padahal kitab suci terang-terang telah mengaturnya. Apakah kita akan membiarkan kitab suci kita hanya sebagai monumen yang kokoh dan menjadi kebanggaan semata? Atau ia sebagai plang penunjuk arah yang dapat menyelamatkan kita dari tersesat? Pada akhirnya semua pilihan kembali pada kita. Read the rest of this entry

Nadzar

Alih bahasa kitab Fathul Qoribil Mujib

Tim Penerjemah: Santri A.P.I. Nailul Muna Tingkatan Shorof Daur 36

Nazdar adalah sebuah kata yang mungkin pernah kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya Nadzar itu di gunakan agar apa yang diinginkan dapat terpenuhi.

Nadzar menurut bahasa ialah janji melakukan kebaikan atau kejelekan. Sedangkan menurut istilah syari’at ialah menetapkan tindak ibadah bagi dirinya sendiri, yang tidak diwajibkan menurut syari’at. Read the rest of this entry

Aqiqoh

Alih bahasa kitab Fathul Qoribil Mujib karya Ibn Qosim

Tim Penerjemah: Santri A.P.I. Nailul Muna Tingkatan Shorof Daur 36

Aqiqah menurut bahasa adalah nama rambut untuk bayi yang baru dilahirkan. Menurut syara’ yaitu hewan yang disembelih untuk bayi yang baru dilahirkan, pada hari ke tujuh setelah kelahirannya. Hari kelahirannya itu dihitung di hari ke tujuh, meski pun bayi tersebut meninggal sebelum hari ke tujuh. Perlu kita ketahui bahwa aqiqah itu hukumnya sunnah, dan aqiqah tersebut tidak gugur sebab dilaksanakan setelah melewati tujuh hari dari hari kelahiran. Maka tidak sah-lah hukum aqiqah bagi orang yang melaksanakannya, apabila dilaksanakan setelah anak yang dilahirkan tadi sudah baligh. Hanya saja bagi si anak diperkenankan memilih mengaqiqah dirinya atau tidak. Read the rest of this entry

 Page 1 of 2  1  2 »