Syarat sah shalat Jumat [dua]

Alih bahasa kitab Fathul Wahab karya Syaikhul Islam Abu Yahya Zakaria Al-Anshori

Tim Penerjemah: Santri A.P.I. Nailul Muna Tingkat Fathul Wahhab Daur ke 36

Tulisan ini adalah bagian kedua dari tiga bagian. Yang pertama di sini, yang ketiga di sini.

1. Shalat Jumat dikerjakan pada waktu shalat Dzuhur , berdasarkan hadits yang artinya: “shalatlah kalian semua sebagaimana kalian melihatku (Nabi Muhammad) di waktu shalat.” Diwajibkan mengerjakan shalat Dzuhur apabila waktu shalat Jumat tidak cukup untuk mengerjakan dua khutbah atau ragu-ragu di dalam menjalankannya. Berbeda dengan perkara apabila ragu-ragu dengan keluarnya waktu, seperti ma’mum masbuq menemukan imam tinggal satu rakaat, maka wajib mengerjakan shalat Dzuhur karena meneruskan shalat Dzuhur. Walaupun shalat Jumat tadi mengikuti pada shalat Jumat yang sah.

2. Shalat Jumat dikerjakan di dalam bangunan atau tanah lapang baik bangunan tersebut terbuat dari batu, lumpur, kayu atau lainnya. Apabila bangunan tersebut roboh maka ahli bangunan membangun atas bangunan tersebut. Shalat Jumat tidak sah bagi ahli perkemahan karena perkemahan merupakan tempat mukim yang tidak bersifat menetap.

3. Shalat Jumat didirikan di satu tempat dan tidak bersamaan dengan takbirotul ihrom shalat Jumat lain untuk menghindari terlaksananya dua sholat Jumat secara bersamaan. Dan juga dikarenakan bahwasanya melaksanakan shalat Jumat pada satu tempat merupakan tanda kerukunan dan kebersatuan.

Dan ketika terlaksana lebih dari satu shalat Jumat dalam satu tempat, maka yang diperhitungkan keabsahannya dari shalat Jumat tersebut adalah takbirotul ihrom imamnya. Adapun bagi jumatan lain yang mendahului atau membarengi tetapi beda lokasi maka hal tersebut tidak berpengaruh.

Kecuali apabila ahli Jum’atnya banyak dan sulit berkumpul di satu tempat, maka diperbolehkan mendirikan dua jamaah Jumat. Apabila dua shalat Jumat dilaksanakan di satu tempat secara bersamaan maka lebih utama mengikuti shalat Jumat yang pertama sedangkan shalat Jumat yang ke dua tidak sah. Kemudian untuk lebih yakinnya ahli Jumat mengerjakan shalat Jumat kemudian shalat Dzuhur.

4. Shalat Jumat dikerjakan dengan berjamaah di dalam rakaat yang pertama karena demikian halnya pelaksanaan shalat Jumat pada masa Nabi dan para sahabat. Dan disyaratkan takbiratul ihromnya orang-orang yang men-sahkan Jumat “jatuh” terlebih dahulu agar makmum yang lain bisa ikut sah, karena dalam hal sah dan batalnya, makmum hanya “membonceng” kepada makmum yang men-sahkan shalat Jumat.

5. Shalat Jumat harus didirikan oleh 40 orang dengan syarat mukallaf, merdeka dan menetap. Oleh karena itu, apabila jumlah tersebut belum tercukupi maka jamaah harus menyempurnakan dengan shalat Dzuhur. Apabila pada waktu berkurangnya jamaah, mengulangi rukun yang sedang dikerjakan seketika itu juga, maka dibolehkan melanjutkan shalat Jumat. Dan apabila tidak, maka wajib mengulangi dari awal. Hal ini sama keadaannya dengan apabila berkurangnya jamaah terjadi pada waktu antara khutbah dan shalat.

Apabila jamaah takbirotul ikhrom sebelum berkurang 2 orang misalnya maka shalat Jum’atnya sempurna, walau pun jamaah tadi tidak mendengarkan khutbah dan takbirotul ihrom sebelum perginya 2 orang tadi. Seseorang yang shalat Jumat di belakang budak, anak kecil, musafir dan orang yang jelas menanggung hadats walaupun hadats besar shalat Jum’atnya tetap sah, akan tetapi dengan syarat tetap ada 40 orang meski tanpa mereka.

6. Shalat Jumat harus didahului dua khutbah.

> Ahmad Afif  (Weleri, Kendal), Sarbini (Kota Kendal), M. Nurrochim (Dukun, Magelang), Abd. Jalil (Ngluwar, Magelang )

Postingan terkait

  • Rukun khutbah Jumat [tiga]
    Alih bahasa kitab Fathul Wahab karya Syaikhul Islam Abu Yahya Zakaria Al-Anshori Tim Penerjemah: Santri A.P.I. Nailul Muna Tingkat Fathul Wahhab Daur ke 36 Tulisan ini adalah bagian ketiga dari tiga bagian. Yang pertama di sini, yang kedua di sini...
  • Sholat Jumat [satu]
    Alih bahasa kitab Fathul Wahab karya Syaikhul Islam Abu Yahya Zakaria Al-AnshoriTim Penerjemah: Santri A.P.I. Nailul Muna Tingkat Fathul Wahhab Daur ke 36Tulisan ini adalah bagian pertama dari tiga bagian. Yang kedua di sini, yang ketiga di sini.Shala...
  • 28 kemakruhan dalam sholat-4
    Penulis: Santri Alfiyyah 2011 Inilah bagian terakhir dari 4 bagian. Anda dapat memeriksa bagian pertama di sini, bagian kedua di sini, bagian ketiga di sini. 21. Sholat di lembah di mana Rosûlullôh tidur Diceritakan dalam hadits, saat Rosûlullôh ...
  • 28 kemakruhan dalam sholat-3
    Penulis: santri Alfiyyah 2011 Ini adalah bagian ke 3. Bagian pertama di sini, bagian kedua di sini, bagian terakhir di sini. 11. Menundukkan kepala atau mengangkatnya ketika ruku’ Dimakruhkan menundukkan kepala atau mendongakkannya ketika ruku’. ...
  • 28 kemakruhan dalam sholat-2
    Penulis: santri Alfiyyah 2011 Ini adalah tulisan ke 2 dari 4 bagian. Anda bisa membaca dulu bagian pertama. Untuk kelanjutannya, anda dapat meng-klik bagian ke tiga atau ke empat. Kemakruhan-kemakruhan dalam Sholat Melihat dari judul di atas, ten...

Tags: , , , , ,

3 Responses to Syarat sah shalat Jumat [dua]

  1. [...] Tulisan ini adalah bagian ketiga dari tiga bagian. Yang pertama di sini, yang kedua di sini. [...]

  2. [...] ini adalah bagian pertama dari tiga bagian. Yang kedua di sini, yang ketiga di [...]

  3. Tiara says:

    terimakasih penjelasan tentang shalat jumatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Sertifikasi halal

Setiap tulisan baik secara utuh atau pun hanya sebagian bahkan satu huruf boleh disalin dan dipergunakan sekehendaknya selama mencantumkan sumbernya yakni pesantrenku.net. Pesantrenku.net tidak bertanggung jawab atas mudarat yang timbul akibat praktik tsb.

Jika anda malas berkunjung ke Blog ini tetapi ingin mendapat update artikel, silakan tuliskan alamat Email anda lalu pencet tombol Subscribe