Syarat sah nikah

Akad nikah dianggap sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Terpenuhinya Rukun-Rukun Nikah

Rukun nikah adalah sesuatu yang harus ada/wajib ada jika kita melakukan aqad nikah. Menurut ulama Hanafiah, rukun dari pernikahan hanya ijab dan qobul saja, sementara menurut jumhur al-ulama’ (kebanyakan ulama) berpendapat ada 4 (empat) macam: shighôt atau ijab qabul, calon suami, calon istri, dan wali. Ada juga sebagian ulama’ yang memasukkan mahar dan saksi sebagai rukun dari pernikahan.

Shîghot/Ijab Qobul

Dari khilafiyah para ulama dalam berpendapat, kita dapat mengetahui bahwa Ijab Qobul adalah satu-satunya rukun yang disepakati oleh semua Ulama’.

Secara logika, dalam ilmu Shorof kata Ijab berasal dari kata ; ajâba—yujîbu—ijâbatan, yang berarti jawaban. Sedangkan kata qobul berasal dari kata: qobila—yaqbalu—qobûlan (sama’iy), yang berarti menerima. Dengan demikian, dengan adanya ijab qobul (seperti halnya jual beli) diharapkan dalam akad ini dapat menghasilkan suatu kesepakatan bersama (ridlo birridlo) dalam hal memberi dan menerima antara kedua belah pihak. Meski pun begitu, baik Hanafiah mau pun Jumhur Al-Ulama memiliki pengertian yang berbeda.

Hanafiah (aliran Imam Abu Hanifah) berpendapat bahwa ijab adalah kalimat yang keluar pertama kali dari salah satu fihak yang melakukan aqad, baik itu dari suami ataupun istri. Sedangkan qobul adalah merupakan jawaban dari fihak yang lain. Sedangkan menurut Jumhur Al-Ulama’, ijab memiliki pengertian lafadz yang diucapkan dari fihak wali/wakil wali perempuan. Adapun qobul berarti lafadz atau ucapan kesanggupan untuk menerima, yang diucapkan fihak laki-laki/wakilnya.

Lafal-lafal ijab qobul tidak harus menggunakan bahasa arab yang sudah lazim penggunaannya seperti: Ankahtuka/Zawwajtuka atau Qobiltu Nikâhahâ…dll, tetapi boleh-boleh saja menggunakan bahasa kita asal bisa difahami oleh kedua belah fihak dan kedua saksi.

Pesantrenku.net: karena blog ini belum support teks arab, maka untuk contoh-contoh akad nikah (baik ijab atau qobul, baik sendiri atau diwakilkan) dengan terpaksa tidak bisa disampaikan di sini. Jika anda menginginkannya, anda dapat menghubungi pesantrenku.net. Teks akan dikirim melalui alamat Email anda.

Calon Suami

Ada beberapa syarat seorang calon suami yang sah untuk melaksanakan akad nikah, antara lain:

  • Beragama Islam

Perlu diketahui bahwa yang kami bahas dalam hal ini adalah bentuk pernikahan dalam agama Islam. Maka tidak sah hukumnya jika pernikahan tersebut dilakukan oleh orang non-muslim bagi calon istri muslimah.

  • Kehendak sendiri 

Menikah adalah suatu hal yang sakral, suci, dan agung. Maka tidak sah nikahnya seorang laki-laki yang dipaksa untuk melakukannya. Jadi orang tersebut menikah karena memang atas kemauannya sendiri dan sadar atas apa yang dilakukannya.

  • Jelas laki-laki

Kata zawj (suami) adalah isim/kata benda yang ditujukan bagi seseorang yang berjenis kelamin laki-laki (mudzakkar). Maka tidak sahlah pernikahan seseorang jika orang tersebut tidak jelas sifat kelelakiannya.

  • Bukan mahrom

Dalam hal ini akan kami jelaskan lebih lanjut pada halaman berikutnya (lihat bab “Wanita yang Haram Dinikah” )

  • Tidak sedang melaksanakan Haji / Umroh, meskipun diwakilkan.
  • Mengetahui nama, nasab, serta keberadaan wanita yang akan dinikahi.

 Calon Istri

Seperti halnya calon suami, seorang calon istri juga harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

  • Beragama islam

Ini sesuai firman-Nya:

Janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang menyekutukan Allôh sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya budak perempuan yang beriman lebih baik dari pada perempuan yang menyekutukan Allôh, walau pun menakjubkanmu. Dan janganlah kamu menikahkan laki-laki yang menyekutukan Allôh (dengan perempuan mukmin) sebelum mereka beriman. Dan sesungguhnya budak yang beriman, lebih baik daripada laki-laki yang menyekutukan Allôh, walau pun dia menakjubkanmu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allôh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allôh menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. ( QS. 2 : 221 )

  •  Bukan mahram
  • Jelas sebagai wanita
  • Tidak bersuami / tidak berstatus sebagai istri
  • Tidak dalam masa ‘iddah

‘Iddah adalah masa penantian yang selama dalam menjalani masa tersebut seorang wanita tidak diperbolehkan melaksanakan akad nikah (dalam hal ini kami tidak dapat menjelaskan secara terperinci tentang macam-macamnya, batasan-batasannya, dan apa pun yang berhubungan dengan ‘iddah. Insyâ’allôh akan kami bahas pada kesempatan berikutnya).

Pesantrenku.net: secara ala kadarnya, untuk masalah iddah anda dapat memeriksanya di sini.

  • Tidak sedang menjalankan ibadah Haji/Umroh

  Dua orang saksi yang adil

Hadits riwayat Ibnu Hibbân menyatakan lâ nikâha illâ biwaliyyin wa syâhiday adlin—tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil. Untuk itu perlu disampaikan pula syarat-syarat menjadi saksi dalam pernikahan, sbb:

  • Merdeka (bukan budak)
  • Mukallaf ( orang baligh yang berakal sehat )
  • Beragama Islam jika mempelai perempuan beragama Islam
  • Adil dalam kesaksiannya dan dapat dipercaya
  • Mendengar dan memahami shîghot akad
  • Sehat badan, akal, dan fikirannya
  • Salah satu / kedua orang tersebut bukan bertindak sebagai wali

 Wali

Madzhab Syafii dan Hambali berpendapat bahwa pernikahan tidak dapat meninggalkan wali. Alasan pendapat ini antara lain hadist Nabi riwayat Turmudzi dari ‘Aisyah yang mengatakan: “Perempuan yang menikah tanpa idzin walinya, maka nikahnya batal” (sampai tiga kali Nabi mengatakan “nikahnya batal”…).”

Hadist Nabi riwayat Baihaqi dari ‘Imran dan ‘Aisyah mengatakan: “Tidak sah nikah tanpa wali dan dua orang saksi ang adil.”

Adapun syarat-syarat menjadi wali dalam pernikahan adalah:

  • Baligh
  • Merdeka
  • Berakal sehat
  • Adil
  • Mengetahui hukum-hukum nikah
  • Seagama dengan mempelai wanitanya

Pesantrenku.net: untuk hierarki perwalian dan macam-macam wali silakan periksa pada postingan tentang itu.

Calon mempelai bukan orang yang terlarang untuk melakukan pernikahan

Dalam ajaran Islam, tidak semua wanita boleh dinikahi, karena ada wanita yang dilarang untuk dinikahi dan bahkan haram hukumnya jika kita mengawininya.

Pesantrenku.net: keterangan secara luas dan memuaskan dapat dibaca pada postingan tentang itu.

Adanya kesanggupan dari kedua calon mempelai (terutama calon suami) untuk melakukan akad nikah.

Seperti kesanggupan jasmani mau pun rohani, kesanggupan membelanjai, serta kesanggupan bergaul dan mengurus rumah tangga.

‘Adamut ta`lîq

Yaitu tidak adanya penggantungan dalam pernikahan, seperti ucapan ayah seorang perempuan kepada orang lain: “apabila anak putriku ditalaq suaminya kemudian selesai ‘iddah, maka aku nikahkan putriku kepadamu.” Kemudian orang tersebut menerimanya, lalu hal tersebut benar-benar terjadi (anak putrinya benar-benar di talaq, lalu masa ‘iddahnya habis dan laki-laki tersebut mau dinikahkan kepadanya), maka pernikahan seperti ini tidak sah.

Akan tetapi ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ketidak absahan penggantungan tersebut tidak berlaku ketika penggantungan hanya pada lafadznya saja bukan pada hakikatnya, seperti perkataan seorang ayah kepada orang lain: “ Aku nikahkan anak perempuanku kepadamu jika kamu mau.” Maka pernikahan seperti ini sah hukumnya. Karena pada hakikatnya tidak ada penggantungan dalam shighat tersebut.

Adamut ta`qît

Yaitu tidak adanya penggantungan waktu dalam pernikahan. Seperti perkataan seorang ayah kepada orang lain :” Aku nikahkan putriku kepadamu selama satu bulan”. kemudian orang tersebut menerimanya, maka pernikahan seperti ini tidak sah. Dan pernikahan seperti ini disebut dengan: Nikah Mut’ah.

 Terpenuhinya Shidâq (mahar/maskawin)

Alloh berfirman:

“ Berikanlah kepada perempuan-perempuan itu maskawin mereka, sebagai satu kewajiban (bagi suami).” (QS. 4 : 4)

Mahar adalah sesuatu yang diberikan dan dinyatakan oleh mempelai laki-laki sebagai hak yang harus diterima pengantin perempuan. Adanya mahar merupakan suatu perlambang penghargaan dan penghormatan istri. Dengan menerima mahar dari calon suami berarti perempuan tersebut telah merelakan dirinya untuk dipimpin oleh laki-laki yang baru saja menikahinya itu.

Sebagai pelengkap:

Perlu diketahui bahwa mahar ada dua macam, yaitu:

(1)  Mahar Musammâ

Yaitu mahar yang telah ditetapkan jumlahnya dalam sighat aqad nikah. Mahar Musammâ dibagi lagi menjadi dua, yaitu :

  1. Mu’ajjal. Yaitu mahar yang segera di berikan kepada istri.
  2. Ghoiru Mu’ajjal. Yaitu mahar yang ditangguhkan pemberiannya kepada istri.

 (2)   Mahar Mitsil

Yaitu mahar yang jumlahnya di tetapkan menurut jumlah yang biasa diterima oleh keluarga fihak istri, karena pada waktu akad nikah jumlah mahar itu belum lagi ditetapkan bentuknya.

Firman Allôh dalam Al-Qur’an Surat Al- Baqôrah ayat 236 menyatakan, “Tidak ada sesuatu pun (mahar atau dosa) atas kamu, jika kamu menceraikan istrimu sebelum kamu mencampurinya atau sebelum kamu menentukan (jumlah mahar).”

Ditulis oleh Santri Mahally 2007 [Halim Miftahudin (Kal-Teng) | Supri Septiono (Magelang) | Miftahul Huda (Demak) | Arwan Masduqi(Magelang) | Muhyiddin (Magelang) | Eri Ardianto(Magelang) | Abdur Rosyid (Magelang)]

Postingan terkait

  • Macam-macam pernikahan
    Nikah Mut’ah (Nikah kontrak) Mut’ah berasal dari kata “mata'a”  yang berarti menikmati. Nikah Mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah yang terputus. Nikah Mut’ah adalah Nikah yang dibatasi dengan waktu tertentu, seperti : satu hari, satu mingg...
  • Mahrom dan tabelnya
    Yang juga tidak bisa dipisahkan dari pembahasan pernikahan adalah masalah mahrom. Mahrom adalah istilah untuk seseorang yang haram melangsungkan pernikahan dengannya. Dengan demikian, subjek mahrom ada 2, yakni lelaki dan perempuan. Akan tetapi, dalam...
  • Siapakah wali nikah?
    Dalam yurisprudensi Islam, kemungkinan status wali pernikahan adalah empat yaitu: 1. Wali Nasab Yaitu orang-orang yang berhak menjadi wali karena ada hubungan nasab/saudara dengan calon istri, seperti keterangan di bawah nanti (kecuali penghulu). 2...
  • Hukum pernikahan dalam Islam
    Penulis: Santri Mahally 2007 Pada dasarnya hukum pernikahan adalah sunnah, kemudian berkembang sesuai dengan kondisinya. Bagi orang yang telah mampu, melangsungkan pernikahan itu sunnah hukumnya. Karena dengan pernikahan hati akan lebih terpelihara d...
  • Nikah: sebuah pengantar
    Penulis: Santri Mahally 2007 Nikah adalah Sunnatullah pada hamba-Nya. Dengan pernikahan Alloh menghendaki agar mereka mengemudikan bahtera kehidupan. Namun demikian Alloh tidak menghendaki perkembangan dunia berjalan sekehendak nafsu insani, oleh seb...

Tags: , , , , , , , , ,

2 Responses to Syarat sah nikah

  1. [...] dalam ijab qobul, wali yang mewakilkan kepada orang lain sebaiknya keluar dari majlisil aqdi (ruang akad). Boleh [...]

  2. [...] saja, karena jika anda melihat syarat dan rukun pernikahan, maka tidak ada ketentuan yang menyebutkan pernikahan seseorang harus melibatkan pemerintah, [...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Sertifikasi halal

Setiap tulisan baik secara utuh atau pun hanya sebagian bahkan satu huruf boleh disalin dan dipergunakan sekehendaknya selama mencantumkan sumbernya yakni pesantrenku.net. Pesantrenku.net tidak bertanggung jawab atas mudarat yang timbul akibat praktik tsb.

Jika anda malas berkunjung ke Blog ini tetapi ingin mendapat update artikel, silakan tuliskan alamat Email anda lalu pencet tombol Subscribe