Mahrom dan tabelnya

Yang juga tidak bisa dipisahkan dari pembahasan pernikahan adalah masalah mahrom. Mahrom adalah istilah untuk seseorang yang haram melangsungkan pernikahan dengannya. Dengan demikian, subjek mahrom ada 2, yakni lelaki dan perempuan. Akan tetapi, dalam postingan ini yang dibahas terbatas mahrom pihak lelaki, sedang untuk pihak perempuan tinggal membalik. Jadi seumpama di tulisan nanti disebutkan ibu di mana ibu adalah mahrom lelaki, maka mahrom pihak perempuan adalah ayah.

Secara garis besar, mahrom terbagi menjadi dua, pertama adalah mereka yang haram dinikahi untuk selamanya, kedua adalah mereka yang haram dinikahi hanya untuk sementara karena ada satu kondisi yang mendasari. Jika kondisi ini hilang, maka keharaman pun hilang.

Inilah keterangannya secara lengkap;

Mereka yang haram dinikahi untuk selamanya;

Firman Allôh dalam an-Nisâ’ ayat 22 dan 23 memberikan batasan pada hal ini, disampaikan hanya artinya saja: 22. Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). 23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Golongan ini ada tiga, yakni;

1.     Karena hubungan nasab/keturunan. Mereka adalah;

  1. Ibu ke atas. Termasuk dalam kategori ini adalah nenek, nenek buyut dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan ke bawah. Termasuk dalam golongan ini adalah cucu perempuan, cicit perempuan dan seterusnya.
  3. Saudara perempuan baik sekandung, seayah saja atau seibu saja.
  4. Bibi, yaitu saudara perempuan ayah atau ibu, juga saudara perempuan kakek atau nenek.
  5. Kemenakan perempuan, yaitu anak perempuan saudara laki-laki atau perempuan sekandung, dan seterusnya ke bawah.

2.     Karena sepersusuan. Mereka adalah;

  1. Ibu susuan.
  2. Nenek susuan. Yaitu ibu dari ibu susuan dan ibu dari suami ibu susuan (suami ibu susuan dihukumi seperti ayah kandung bagi anak susuan).
  3. Bibi susuan. Yaitu saudara perempuan dari ibu susuan / suami ibu susuan dan seterusnya ke atas.
  4. Kemenakan perempuan susuan. Yaitu cucu-cucu dari ibu susuan sebab mereka itu termasuk anak dari saudara sendiri.
  5. Saudara perempuan sesusuan. Yaitu perempuan yang sama-sama menyusu pada ibu susuan yang sama. Ia dihukumi seperti saudara kandungnya sendiri. Firman Allôh kami sampaikan artinya:

3.     Karena hubungan pernikahan. Mereka adalah;

  1. Mertua.
  2. Bekas istri ayahnya (ibu tiri yang telah dicerai atau ditinggal mati ayahnya). Arti dari firman Allôh dalam surat An-Nisâ’ menjelaskan hukum itu: “Dan janganlah kamu mengawini wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu” ( QS. 4: 22 )
  3. Bekas istri anaknya. Demikian juga bekas istri dari cucu laki-laki dan seterusnya juga haram untuk dinikahi. Kelanjutan dari firman Allôh tadi menjelaskan hukum ini, yakni: “… (dan diharamkan bagi kamu) istri-istri anak kandungmu…” (QS. 4:23 )
  4. Anak tiri yang ibunya telah dikumpulinya (coitus). Kelanjutan dari ayat di atas adalah: “Dan anak-anak tiri yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri. Tetapi, jika kamu belum menyampuri mereka, maka tidaklah berdosa atasmu (mengawini anak tiri itu).” (QS. 4: 23).
  5. Saudara perempuan dari istrinya. Ayat yang mendasari adalah kelanjutan dari ayat di atas, yang artinya: “Dan mengumpulkan (mengawini) dua perempuan yang bersaudara kecuali pada masa yang telah lalu.(QS. 4:23). Begitu pun hadits Nabi yang artinya: “Tidak boleh dimadu antara seorang perempuan dengan bibi dari ayah dan antara perempuan dengan bibinya dari ibu.” (HR. Bukhory Muslim). Ada lagi, dalam hadits riwayat Ibnu Hibbân diterangkan, artinya: “Sesungguhnya apabila kamu mengerjakan yang begitu (mengawini istri bersaudara), maka berarti kamu telah memutuskan kekeluargaan.”

Tabel mahrom

Sekadar memperjelas, kami sampaikan mahrom golongan pertama dalam bentuk tabel yang berlaku bagi lelaki dan perempuan:

No Hubungan darah Hubungan pernikahan Sepersusuan
1 Ayah/Ibu (ke atas) Ayah/Ibu mertua Ibu/Bapak ke atas
2 Anak (ke bawah) (Bekas) Menantu Anak ke bawah
3 Kakak/adik (Bekas) Ibu tiri Saudara
4 Paman/Bibi (Bekas) Bapak/anak tiri perempuan jika ibunya telah dicampuri tiri Paman/Bibi
5 Kemenakan Saudara perempuan dari istrinya, bisa kakak/adiknya atau bibinya. Kemenakan

 

Mereka yang haram dinikahi untuk sementara, yaitu;

  1. Wanita yang telah ditalaq tiga kali (ba’in). Wanita seperti ini haram menikah lagi dengan bekas suami yang men-talaqnya, kecuali setelah melangsungkan pernikahan (bukan rekayasa) dengan laki-laki lain, kemudian bercerai dan telah habis masa ‘iddahnya. Firman Allôh kami sampaikan artinya: “Kemudian jika dia menyeraikannya (dicerai oleh suaminya yang kedua), maka tidak ada halangan buat mereka berdua untuk menikah lagi jika keduanya yakin bahwa mereka dapat menegakkan hukum-hukum Allôh.” (QS. 2 :230)
  2. Mengumpulkan antara dua wanita bersaudara. Maka apabila dengan jalan bergantian setelah bercerai/menyeraikan salah satunya.
  3. Wanita yang masih mempunyai ikatan perkawinan dengan laki-laki lain.
  4. Wanita yang masih dalam hitungan ‘iddah.
  5. Wanita yang sedang melaksanakan ihram.
  6. Wanita musyrikah (menyekutukan Allôh). Para ulama fikih sepakat bahwa seorang laki-laki Muslim haram mengawini perempuan musyrik, apa pun agamanya kecuali Yahudi dan Nasrani asli. Para penganut kedua agama tersebut disebut dalam Al- Qur’an dengan nama ahli kitab (kafir kitaby). Maka laki-laki Muslim diperbolehkan menikah dengan kafir kitaby jika perkawinan tersebut tidak dikhawatirkan akan terdesak mengikuti agama sang istri, atau tidak dikhawatirkan akan dapat mendidik anak-anaknya pada agama sang istri. Akan tetapi hukum tersebut di atas tidak berlaku bagi seorang wanita muslimah. Yang mana seorang wanita muslimah diharamkan bersuamikan seorang non-muslim.
  7. Suami yang sudah memiliki empat istri. Seorang suami haram menikahi wanita jikalau ia telah mempunyai empat orang istri.

Ditulis oleh Santri Mahally 2007 [Halim Miftahudin (Kal-Teng) | Supri Septiono (Magelang) | Miftahul Huda (Demak) | Arwan Masduqi(Magelang) | Muhyiddin (Magelang) | Eri Ardianto(Magelang) | Abdur Rosyid (Magelang)]

Postingan terkait

  • Macam-macam pernikahan
    Nikah Mut’ah (Nikah kontrak) Mut’ah berasal dari kata “mata'a”  yang berarti menikmati. Nikah Mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah yang terputus. Nikah Mut’ah adalah Nikah yang dibatasi dengan waktu tertentu, seperti : satu hari, satu mingg...
  • Siapakah wali nikah?
    Dalam yurisprudensi Islam, kemungkinan status wali pernikahan adalah empat yaitu: 1. Wali Nasab Yaitu orang-orang yang berhak menjadi wali karena ada hubungan nasab/saudara dengan calon istri, seperti keterangan di bawah nanti (kecuali penghulu). 2...
  • Syarat sah nikah
    Akad nikah dianggap sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Terpenuhinya Rukun-Rukun Nikah Rukun nikah adalah sesuatu yang harus ada/wajib ada jika kita melakukan aqad nikah. Menurut ulama Hanafiah, rukun dari pernikahan hanya ijab dan q...
  • Hukum pernikahan dalam Islam
    Penulis: Santri Mahally 2007 Pada dasarnya hukum pernikahan adalah sunnah, kemudian berkembang sesuai dengan kondisinya. Bagi orang yang telah mampu, melangsungkan pernikahan itu sunnah hukumnya. Karena dengan pernikahan hati akan lebih terpelihara d...
  • Nikah: sebuah pengantar
    Penulis: Santri Mahally 2007 Nikah adalah Sunnatullah pada hamba-Nya. Dengan pernikahan Alloh menghendaki agar mereka mengemudikan bahtera kehidupan. Namun demikian Alloh tidak menghendaki perkembangan dunia berjalan sekehendak nafsu insani, oleh seb...

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Sertifikasi halal

Setiap tulisan baik secara utuh atau pun hanya sebagian bahkan satu huruf boleh disalin dan dipergunakan sekehendaknya selama mencantumkan sumbernya yakni pesantrenku.net. Pesantrenku.net tidak bertanggung jawab atas mudarat yang timbul akibat praktik tsb.

Jika anda malas berkunjung ke Blog ini tetapi ingin mendapat update artikel, silakan tuliskan alamat Email anda lalu pencet tombol Subscribe