Macam-macam pernikahan

Nikah Mut’ah (Nikah kontrak)

Mut’ah berasal dari kata “mata’a”  yang berarti menikmati. Nikah Mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah yang terputus. Nikah Mut’ah adalah Nikah yang dibatasi dengan waktu tertentu, seperti : satu hari, satu minggu, satu bulan. Disebut nikah Mut’ah karena dengan pernikahan tersebut laki-laki dapat menikmati istrinya sampai batas waktu yang telah ditentukan dalam akad.

Para Ulama terkemuka dari masing-masing madzhab sepakat atas haramnya pernikahan model ini. Mereka mengatakan: “seumpama pernikahan seperti ini terjadi, maka tidak sah dengan sendirinya”. Kesepakatan itu berdasarkan atas lima hal:

  1. Masalah ini tidak dapat dikaitkan dengan hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, tentang pernikahan, talak, ‘iddah, maupun waris. Dengan demikian pernikahan model ini tidak sah seperti halnya macam-macam pernikahan lain yang batil.
  2. Berdasarkan beberapa Hadits yang jelas-jelas mengharamkannya.
  3. Ketika Sayyidina Umar RA menjadi khalifah, beliau telah melarang nikah Mut’ah dalam sebuah pidatonya. Sementara sahabat Nabi yang lain tidak ada yang menentangnya, dan seandainya Sayyidina Umar RA salah dalam pidatonya, maka para sahabat Nabi tidak mungkin menyetujuinya.
  4. Imam Al-Khithobi berpendapat pengharaman nikah mut’ah adalah ijma’ kecuali Ulama Syi’ah. Menurut prinsip mereka, dalam menyelesaikan perkara-perkara yang diperselisihkan hanya boleh bersandar pada Sayyidina Ali karromallôhu wajhah. Sedangkan dari beliau sendiri ada riwayat yang mengatakan bahwa “keabsahan nikah mut’ah itu telah mansukh (dihapus)”. Imam Al-Baihaqi menukil berita dari Ja’far bin Muhammad bahwa ia pernah ditanya tentang nikah mut’ah, maka beliau menjawab: “Nikah Mut’ah itu sama dengan Zina”.
  5. Karena tujuan nikah mut’ah adalah semata-mata melampiaskan syahwat dan terlepas untuk melestarikan keturunan atau mempertahankan generasi. Padahal tujuan utama pernikahan adalah melestarikan keturunan. Di samping itu, nikah mut’ah jelas merugikan kaum wanita, karena dianggap sebagaimana barang dagangan yang bisa dipindahtangankan dari tangan satu ke tangan yang lain, dan mengancam masa depan anak bila terjadi kehamilan, karena mereka tidak akan mendapatkan perlindungan sebagaimana lazimnya serta mengakibatkan kesenjangan sosial.

 Nikah Syighôr (nikah kontrak).

As-Syighôru dalam arti kamus adalah tukar menukar barang, sedangkan secara istilah adalah mengawinkan anak perempuannya dengan cara saling menukar satu kepada yang lainnya tanpa mahar. Nikah model ini dianggap tidak sah menurut hukum agama. Larangan tersebut seperti yang terdapat dalam kitab Shohih Bukhori dan Muslim.

Nikah Syighôr  yang dimaksud adalah apabila seorang wali berkata kepada orang laki-laki yang ia nikahkan dengan anaknya “Aku nikahkan engkau dengan anak perempuanku, dengan syarat engkau nikahkan pula aku dengan anak perempuanmu”. Sedangkan farji dari kedua belah pihak cukup sebagai mahar, lalu pernikahan itu diterima. Padahal, seandainya farji bukan sebagai mahar, maka pernikahan kedua belah pihak dianggap sah. Karena persyaratan tersebut di atas bertujuan agar wali dapat dinikahkan pula dengan anak perempuan calon menantunya. Dan itu tidak merusak pernikahan, asalkan terdapat mahar mitsil yang menjadi syarat dan tetap wajib dibayar oleh kedua belah pihak.

Nikah sirri

Ada lagi model pernikahan, dan ini bisa jadi hanya ada di Indonesia tercinta. Namanya nikah sirri (memakai dobel r jika disesuaikan dengan bahasa arabnya). Masyarakat kita ada yang menyebutnya nikah sir, siri, sirih.

Menurut perundang-undangan kita, setiap pernikahan (begitu pula perceraian dan tambah anak) harus tercatat. Gunanya untuk database warga. Kalau pernikahan dan perceraian diurusi oleh Kantor Urusan Agama, kalau ‘produktivitas’ anak lain lagi. Nah, nikah sirri adalah nikah yang tidak (atau belum) melibatkan KUA sebagai pencatat.

Apakah nikah sirri ini sah?

Tentu saja, karena jika anda melihat syarat dan rukun pernikahan, maka tidak ada ketentuan yang menyebutkan pernikahan seseorang harus melibatkan pemerintah, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, misalnya apabila calaon mempelai perempuan tidak mempunyai wali. Jawaban ini adalah jawaban objektif. Apabila kita berbicara sebagai warga negara Indonesia, maka kita juga harus mengikuti aturan negara, selama aturan tersebut tidak menjauhkan kita dari Allôh ta’âlâ.

Ditulis oleh Santri Mahally 2007 [Halim Miftahudin (Kal-Teng) | Supri Septiono (Magelang) | Miftahul Huda (Demak) | Arwan Masduqi(Magelang) | Muhyiddin (Magelang) | Eri Ardianto(Magelang) | Abdur Rosyid (Magelang)]

Postingan terkait

  • Mahrom dan tabelnya
    Yang juga tidak bisa dipisahkan dari pembahasan pernikahan adalah masalah mahrom. Mahrom adalah istilah untuk seseorang yang haram melangsungkan pernikahan dengannya. Dengan demikian, subjek mahrom ada 2, yakni lelaki dan perempuan. Akan tetapi, dalam...
  • Siapakah wali nikah?
    Dalam yurisprudensi Islam, kemungkinan status wali pernikahan adalah empat yaitu: 1. Wali Nasab Yaitu orang-orang yang berhak menjadi wali karena ada hubungan nasab/saudara dengan calon istri, seperti keterangan di bawah nanti (kecuali penghulu). 2...
  • Syarat sah nikah
    Akad nikah dianggap sah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Terpenuhinya Rukun-Rukun Nikah Rukun nikah adalah sesuatu yang harus ada/wajib ada jika kita melakukan aqad nikah. Menurut ulama Hanafiah, rukun dari pernikahan hanya ijab dan q...
  • Hukum pernikahan dalam Islam
    Penulis: Santri Mahally 2007 Pada dasarnya hukum pernikahan adalah sunnah, kemudian berkembang sesuai dengan kondisinya. Bagi orang yang telah mampu, melangsungkan pernikahan itu sunnah hukumnya. Karena dengan pernikahan hati akan lebih terpelihara d...
  • Nikah: sebuah pengantar
    Penulis: Santri Mahally 2007 Nikah adalah Sunnatullah pada hamba-Nya. Dengan pernikahan Alloh menghendaki agar mereka mengemudikan bahtera kehidupan. Namun demikian Alloh tidak menghendaki perkembangan dunia berjalan sekehendak nafsu insani, oleh seb...

Tags: , , , , , , , , ,

One Response to Macam-macam pernikahan

  1. harun yahya says:

    Syukran atas tulisan ini. Sayang tiada update..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Sertifikasi halal

Setiap tulisan baik secara utuh atau pun hanya sebagian bahkan satu huruf boleh disalin dan dipergunakan sekehendaknya selama mencantumkan sumbernya yakni pesantrenku.net. Pesantrenku.net tidak bertanggung jawab atas mudarat yang timbul akibat praktik tsb.

Jika anda malas berkunjung ke Blog ini tetapi ingin mendapat update artikel, silakan tuliskan alamat Email anda lalu pencet tombol Subscribe